Minggu, 01 Februari 2015

senja untuk Senja

photo was taken from: here

Hai, Kamu.
Masih melekat di ingatanku tentang dirimu ketika senja di pantai itu.
Si cantik pecinta senja, pikirku.
Lalu sejak itu tak pernah kulewatkan senja tanpa melihatmu.
Pun hanya sekedar melewati tempatmu.
Atau berhenti diatas kendaraanku, hanya terdiam tanpa menghampirimu.
Melihatmu mulai bersenda gurau sendiri dalam sepi,
atau sekiranya hanya berjalan memandang ombak yang kian datang.
Dan setelah senja ke sekian milikmu, aku baru berani berhadapan denganmu.

"Karena aku jatuh cinta dengan senja, maka anggaplah aku senja." ujarmu, ketika kutanyakan perihal nama.
Dan sejak itulah, aku mengenalmu sebagai Senja.
Dan sejak itulah, Senja, kau tak lagi  bersenda gurau sendiri.
Kau punya aku, sebagai teman saat senjamu.

Masih kuingat, senja itu kau bercerita tentang harimu yang tak semenyenangkan dulu.
Bercerita tentang mereka yang kian hari tak kenal ampun menyakitkan hati.
Tentang hujan yang datang saat kau mengalami hari burukmu.
Tentang segala keluh kesahmu.
Tentang segala sakit dan pahitnya kehidupanmu.

Ah, senja.
Kau tak tahu ribuan kali aku merutuki diri karena tak mampu menjagamu.
Merutuki, hingga hampir membenci, hanya karena aku tak mampu berbuat banyak untuk membahagiakanmu.
Tapi kau tersenyum, Senja.
Senyum yang membuatku terpaku.
Dan membuatku semakin merutuki diri, karena tak bertemu denganmu sejak awal.
Karena paduan senyummu dan senja di pantai itu sangat memabukkan bagiku.

Lalu datanglah saat hari itu tiba.
datanglah hari dimana hanya pada senja itu sekiranya kamu hanya sanggup berdiam diri.
Menahan untuk berbicara, satu kali lagi.
Tak lagi bertanya apakah senja pasti akan kembali
atau sanggupkah kamu bertahan untuk memandang senja lagi.
Karena sudah kukatakan, bahwa senja takkan pergi.
Tapi kau malah terdiam, Senja.
Kau malah memandang seolah tak percaya.
Tatapanmu melemah, seolah mengaku kalah.
Pada segala pahitnya hari.
Pada segala derita yang kau lalui.
Pada kehidupan ini.

Lalu kau, masih dengan berdiam diri, memejamkan matamu.
Menikmati senjamu yang kesekian kali ini, benar-benar meresapi.

"Aku pulang ya, Damar?" bukan sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan.
Kau tak benar-benar bertanya padaku. Pun meminta izinku.
Kau, benar-benar segera pergi meninggalkanku di senja itu.
Kau, berlalu.

Karena untuk pertama kali, kau tak lagi menyesap habis senja yang ada, Senja.
Untuk pertama kali, kau tak lagi banyak bicara.
Untuk pertama kali, aku merasa sakit yang tak terkira, Senja.

Dan, untuk pertama kali, aku sadar bahwa aku jatuh cinta.

Tidak ada komentar: