Kamis, 16 Januari 2014

Karina, untuk Raditya

Selamat pagi, pagi.
Aku tidak akan berucap apa-apa.
Aku tidak akan mencoba mengobrak-abrik rasamu, kini.
Pun mencoba mengucapkan langsung, tidak, tidak lagi.

Aku hanya akan berucap ketika kau ingin aku berucap.
Tapi kau hanya tertegun, menatap sekilas dan tersenyum.
Membuang jauh jiwaku, menajamkan rasaku.
Lalu aku bisa apa?

Hanya bisa diam, menatapmu dari kejauhan.
Jarak. Lagi-lagi mengenai jarak.
Mereka mungkin tak akan pernah mengerti rasanya.
Disaat mereka tidak sulit untuk mengucap rindu, untuk mencecap segala rasa.
Namun kita, saling jatuh cinta dengan cara yang berbeda.
Berusaha saling mengerti, berusaha saling memahami satu kali lagi.
Berusaha mencecap segala asa, menggali segala mimpi, memutar otak berulang kali untuk meretas harapan.

Disaat mereka tidak sulit untuk mencerca, untuk memberi tatapan seolah-olah ini adalah kesalahan.
Dan kita, dengan hancur, penuh luka bercampur peluh, berusaha membangun lagi mimpi-mimpi yang ada.
Disaat mereka tak akan merasa sulit untuk mengucapkan cinta, namun kita masih meraba-raba, masih kesulitan untuk mengucap sampai nanti. Saling ketakutan untuk mengucap selamanya.

Tidak, aku tidak menyalahkanmu kini.
Tidak juga menyalahkan pagi, yang selalu menyambut kita.
Tidak juga menyalahkan matahari, yang kian hari semakin ramah menunjukkan sinarnya.
Pun tidak menyalahkan malam, yang selalu dengan sukses menumbuhkan segala luka.
yang selalu sukses membunuh mimpiku, satu kali lagi.

Aku hanya akan berkata, bahwa kali ini izinkan aku untuk mengucapkan kita.
izinkan aku untuk mencecap segala mimpi.
izinkan aku untuk tidak lagi meraba asa, tidak lagi meraba kita.
bahwa kadang jiwa juga punya rasa lelahnya.
bahwa kadang hati memang harus diikhlaskan, untuk kebaikan dan apa yang akan menunggu nantinya.

Selamat pagi, pagi :)

- Karina, untuk Raditya-

Tidak ada komentar: