Sabtu, 05 Juni 2010

hurt

aku ga tau kenapa.
aku ga tau apa yang sedang terjadi dalam diriku.
perasaan yang berkecambah dan menjadi benalu dalam diriku sendiri, merugikanku.
perasaan yang semula membuatku bisa kuat, tapi kini melemahkanku.

aku tau aku cengeng.
aku rapuh.
aku tau aku ga bisa melihat sesuatu yang sedih sedikit.

tapi tadi, sungguh, perasaan itu tidak bisa ditahan.

membuatku terlihat sangat lemah.
membuatku terlihat sangat rapuh.

semula aku yakin aku bisa.
semula aku yakin aku mampu memperlihatkan bahwa aku baik-baik saja.
sekedar untuk membuatnya melihatku, atau senang mengetahui bahwa aku telah membaik.

tapi nyatanya ngga.
kebiasaan itu masih bisa terasa, kebiasaan yang telah terjadi sedari kelas 7 semester akhir, masih bisa terasa saat ini.
mataku dengan refleks mencarinya.
dan ditemukan.
ia, dengan gaya khasnya tengah bercanda bersama temannya.
dan aku? aku diam, kosong, sepi.

perasaan yang ga seharusnya aku rasain.
yang seharusnya udah sirna.
perlahan muncul, menguak, dan tersenyum samar.

seharusnya ga begini.
seharusnya aku bisa menahan diri.
menahan untuk tidak mengetahui bahwa masih ada sesuatu yang tertinggal.

bukan aku ingin kembali, hanya perih ini ternyata cuma butuh obatnya.
bukan ingin mengembalikan kenangan yang hilang, hanya ternyata perasaan ini masih menyimpan.
aku ga tau obatnya apa, bagaimana.
cuma kata-kata dia waktu itu ada yang ngena.
bukan menyakiti, tapi memberi motivasi.
motivasi untuk saling maju ke depan, di jalan masing-masing.
tidak harus bersama, tapi bisa.

'find him, find your true love'
dia bilang begitu.
tapi entah kenapa aku memberikannya kepercayaan, seolah-olah yang dia katakan itu benar.
karena dia memang selalu berusaha bersikap jujur.
karena dia memang tahu.

mungkin aku paham alasannya.
meskipun banyak yang bilang itu bohong, tapi aku percaya.
karena apa? karena sebelumnya dia tidak pernah berbohong padaku.
dia selalu bersikap wajar walau keadaan menjadi tak wajar.
dia orang yang bisa menunggu saat tidak ada yang bisa menunggu.

karena aku tau dia, aku terlalu mengenalnya.

aku tau aku paham tapi aku sebenarnya tidak benar-benar mengerti.
aku tau aku peduli tapi aku sebenarnya berusaha tidak peduli untuk diriku sendiri.

bukan ingin kembali, bukan itu.
tapi ga mau kehilangan yang udah benar-benar ada.
ga mau.
sama sekali ga mau.

mungkin kalau boleh minta permintaan terakhir yang aku mau itu ga mau kehilangan orang-orang yang pernah mengisi hidupku.
yang pernah menjadi bagian, dan mengisi hati.
tapi faktanya itu sulit.

dan ya, aku disini sendiri dalam kegalauan tanpa seorangpun yang menemani.

selamat datang di hidupmu, Nadia.