Sabtu, 29 Mei 2010

a letter

Dear Nadia,

Mungkin kamu memang salah.
mungkin memang kesalahan kamu yang akhirnya seperti ini.
mungkin memang kamu yang pantas merasakannya.

ah, tapi nampaknya kamu sedang aneh, pilu.
saya mulai ga nyaman sama kamu.
saya mulai ga ngerti sama apa yang kamu pikirkan, terlebih apa yang kadang membuatmu menangis.

saya tau kamu rindu dia, bahkan mereka. karena jujur saya pun begitu.
tapi membiarkan puing-puing masa lalu itu terkenang dan terekam dengan jelas di kepalamu tiap waktu bukan jawaban yang baik, Nad.
bahkan kita -aku dan kamu- tau apa yang kita mau. tau apa yang kita impikan.
dan itu sudah terlihat Nad.

lantas apa?
saya tau kamu bisa.
saya tau kamu mampu.
semua orang juga paham kalau begitu.
saya ga bisa bilang kamu hebat, tapi kadang ada yang bilang kamu hebat.

tapi kalo kamu merasa kamu hebat, kamu salah.

karena kamu gak hebat.
karena kamu belum cukup mampu.
karena kamu ternyata masih terbayang dengan kehancuranmu.
karena kamu ternyata masih ingat dengan traumamu.
karena kamu ternyata masih rapuh, dengan api bercampur air keruh.

mereka ga bisa lihat kesedihanmu, karena kadang kamu bohong.
kamu membohongi perasaanmu dengan selalu membuat kesan bahagia dan menaruh senyuman di tiap harimu.

sekali lagi, saya tau mau kamu, saya tau harapan kamu.
saya tau kamu sebenarnya mau cerita, menangis dihadapan semuanya, lalu pelukan hangat akan datang kepadamu dan kamu berhenti menangis.

sekali lagi, kita itu satu, Nadia.
jadi saya tau.
saya tau kamu sebenarnya pilu ketika melihat kehancuranmu.
saya tau seberapa rapuhnya kamu, dan kamu seolah membentengi diri.
saya tau seberapa besar kamu takut menghadapi masa jatuhmu.
saya tau.

Nadia Fridasaniya Azaria, kita itu satu.
jadi biarkan saya menasehatimu.

kadang yang kamu inginkan memang ga sesuai sama harapan kamu.
kadang Tuhan memang memberi ujian kepadamu.
atau kamu yang terlalu teoritis, alhasil segalanya menjadi ironis.
atau tindakan kamu terlalu apatis?

Nadia, saya tau kamu masih terbayang dengan masa lalumu.
tapi mau jadi apa kamu, kalau akhirnya kamu membiarkan masa lalumu merenggut harimu?
jangan pernah biarkan masa lalu mengatur hidupmu.
jangan pernah, kamu tau maksud saya kan, Nad?

Nadia, saya tau kamu menunggu. saya tau kamu menunggu orang yang bisa menunggumu.
saya tau kamu ingin laki-laki yang baik datang kepadamu.
tapi mau jadi apa kamu, kalau kamu selalu terbayang dengan orang yang bisa menunggumu itu?
perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik.
jadikanlah dirimu perempuan yang baik dulu, lalu orang yang menunggumu -yang baik dan menyayangimu- akan datang.
karena kamu mau mendapatkan yang baik dan setia kan, Nad?

Nadia, saya tau kamu sedang rindu. saya tau kamu sedang pilu.
tapi mau jadi apa kamu, kalau akhirnya kerinduan itu menyakitimu?
jangan pernah biarkan rasa rindu itu menghancurkanmu.
karena kamu mau jadi perempuan yang tegar kan, Nad?

Nadia, saya tau kamu ingin sesekali merasa puas dengan yang kamu dapatkan.
saya tau kamu mampu. karena saya paham kemampuanmu.
tapi mau jadi apa kamu, kalau kepuasanmu menjadikan kamu malas?
jangan pernah biarkan kepuasanmu menghakimi dirimu.
karena kamu mau jadi orang yang hebat kan, Nad?

Nadia, biarkan ini berlalu.
biarkan masa lalumu pergi. biarkan hari esok menjadi bayanganmu, menjadi tempatmu menyimpan harapan.
dan biarkan hari ini datang, jangan takut. karena kamu tidak sendirian. kamu tidak akan pernah sendirian.

terima kasih sudah mendengarkan saya, Nadia.
saya menyayangimu, sangat.
semoga kamu tau itu.

Yours sincerely,

Soul -jiwamu-

Tidak ada komentar: