Sabtu, 12 Desember 2009

respirasi

hanya terpejam.
membiarkan irama itu sedikit demi sedikit merasuki jiwaku, dan membenamkan diri dalam kesunyian.
aku dengan ragaku dan memoriku.

aku hanya tertegun menatap layar, melihat dan tak bergeming. hanya seperti itu.
hanya bingung ingin menulis apa dan bagaimana. dan untuk siapa lebih tepatnya.

media bergeming, menyuarakan segala iming-iming akan keinginan dan kemampuan.
keterbatasan dan harapan itu berpadu dalam rangkaian yang berhubungan satu sama lain.
aku menyuarakan isi hatiku, penuh dengan peluh dan sesak yang mungkin kadang dirasakan.
menyuarakan segala teriakan dan sanjungan, bahkan celaan dari banyak hal yang kadang tidak dapat digambarkan.

terlalu sulit untukku menghitung, ataupun menghapusnya.
skeptis memang, tapi itulah isinya.

ada hal dimana kita merasa terjatuh, dan tidak sanggup berdiri lagi.
ada hal dimana ketika hati berteriak, dan menyeruak segala rasa yang sebenarnya terpendam.
saat kita tengah menjadi orang yang paling egois yang pernah ada, untuk diri kita sendiri.

atau, ada saat dimana kita tidak sesuai dengan perasaan.
dimana hati tidak berkenan dengan apa yang tidak kita dapatkan.

kebencian itu berlipat ganda, tangis pun tak mampu melegakan semuanya.
takkan bisa menambal atau menghapus luka yang sebenarnya harus tidak ada.

dan ketika aku dalam posisi itu, aku hanya mengatakan, "jangan mendramatisir keadaan."
ya memang begitu.
kadang apa yang didapatkan tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
tapi kesalahan kita, terlalu menaruh pikiran kita kepada apa yang tidak kita dapatkan, bukan apa yang telah kita miliki.

bukan tidak bersyukur, hanya saja terus menerus tidak puas.
manusia memang begitu, tapi kalau selalu merasa tidak puas, kapan merasakan bahagia?

bahagia itu bukan mendapatkan apa yang ingin kita dapatkan, tapi bahagia itu adalah mensyukuri dan menerima apa yang telah kita miliki.

bukannya begitu? lantas kenapa disalah artikan?

diam saja.
membiarkan media menarikku dari pikiranku.
membiarkan jemariku mengetik,
membiarkan paru-paruku melakukan proses respirasi yang terjadi ketika aku masih di dunia ini.
membiarkan pikiranku mengaturku, tapi ragaku tetap mengambil alih kendaliku.
kendati apapun, inilah yang seharusnya.

dan inilah jalannya.

Tidak ada komentar: