Jumat, 22 Mei 2015

Karena Daun Yang Gugur Tak Pernah Melupakan Pohon

Teruntuk engkau yang tak pernah melihat kami, apa kabar? How's life? Good? I hope you're doing fine.
Kami baik-baik saja disini.
D, banyak yang berubah semenjak engkau pergi. Bidadari yang kian hari semakin cantik, matahari yang kian hari semakin tumbuh berkembang, dan aku, yang kuharap mampu sedikit bermanfaat.
It was hard, D. It was hard for us to realize that we're different.
Segala tanda tanya serta terpaan kabar menyebalkan sudah banyak sekali yang muncul hanya karena kami terabaikan.
Betahun-tahun, D. Bertahun-tahun baru cukup bagiku untuk setidaknya mampu menerima hal-hal yang tidak pernah mampu kuubah.
Bertahun-tahun baru cukup bagiku untuk, setidaknya, mengasihimu. Bukan memaafkan, lebih tepatnya mengasihi. Mengasihi kehidupanmu kini.
Bahagiakah, D? Menyenangkankah?
D, bidadari selalu mengatakan bahwa tidak ada orang jahat. Semua orang baik, hanya saja mungkin ada yang sedang tidak dalam dirinya sendiri.
Dan itulah yang menjadi pegangan kami, agar tetap bersikap baik kepadamu.
Tapi kau masih berusaha memusuhi kami, kenapa?
D, salah apa kami terhadapmu? Terjebakkah engkau, D? Sebegitu indahkah hidupmu kini, D?
D, banyak tanda tanya yang ingin kutanyakan, hanya saja engkau tak tergapai lagi, kini.
Kau, menjauh, menghilang, layaknya debu yang tak pernah tersentuh.
Tapi D, pun bisa tergapai, kami pun sudah enggan. Sudah lelah, D. Sudah terlalu lama untuk tetap membenci. Sudah tidak ingin mencari perkara padamu lagi.
Bahkan, selayaknya engkau, sudah benar-benar tak ada lagi.
Ah, D. Lupakanlah. Aku tak ingin banyak berucap, maka biarkanlah aku bercerita.
Tentang daun yang gugur dari pohonnya.

D, pernahkah ingat akan daun-daun gugur yang jatuh dari pohonnya? Marilah kita bermain menyusun cerita. 
D, alkisah hiduplah sebuah pohon yang lebat daunnya, bidadari yang selalu menemani dan matahari yang selalu menyinari.
Suatu ketika, pohon mengalami suatu kondisi yang mengharuskan ia menghempaskan daun-daun, membiarkan daun-daun berguguran.
Ribuan hari, daun gugur membenci. Mengalami suatu ketidakadilan yang menyakitkan hati.
Tertiup angin, terinjak, terhempas ke tempat lain. Jutaan memori tercipta selama itu, D.
Namun bidadari, lagi-lagi, selalu menemani. Bidadari selalu membahagiakan hati, dan matahari membuat daun yang gugur merasa kekal abadi.
Bidadari selalu menceritakan pada daun gugur bahwa segala sesuatu yang terjadi ada hikmahnya.
Bahwa bukan kemauan pohon untuk membuat daun tersebut gugur, akan tetapi ada suatu proses yang diharuskan, agar alam tetap seimbang.
Bahwa pohon harus mengorbankan diri, mengorbankan daun gugur agar hidup tetap seimbang.
Dan butuh bertahun-tahun, D, bagi daun gugur untuk memikirkannya kembali.
Dan seiring berjalannya waktu, pohon tersebut mulai semakin berumur, dan tidak sebaik kondisi disaat masih tumbuh daun hijau.
Dan seiring itulah, matahari muncul semakin memberikan sinarnya.
Sedang kemarau, tebak daun gugur.
Sembari menebak-nebak, apa kejutan alam yang akan diberikan.
Dan sembari itulah, D, daun gugur mulai melalukan banyak tahap pertahanan diri.
Hingga tiba suatu kejadian yang menamparnya, yang membuatnya teringat akan pohon yang dahulu menggugurkannya.
D, memori itu layaknya hilang entah jauh kemana. Sudah lupa bagaimana dan seperti apa wujud pohon tersebut. Jenis apakah saja sudah lupa.
Tapi D, masih banyak pula memori yang tertoreh di daun gugur itu.
akan tetapi masih inginkah engkau, sedikitnya mengetahui sudah pergi kemanakah daun yang gugur?
Tertiup anginkah? Atau berubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat?

Karena daun yang gugur tak pernah melupakan pohon, meski daun gugur tak mengingat bagaimana pohon, atau masih dirundung rasa kasihan, atau masih dirundung kebencian, bukan, ketidakterimaan.
Maka segala hal ini terjadi.
Karena daun yang gugur, tak pernah melupakan pohon.