Jumat, 06 Februari 2015

HTS, ceunah

"Eh nanya deh."
"Apa?"
"Gue daridulu ga pernah paham deh kenapa lo dulu ga jadian aja sih sama ********? Kan udah sama-sama suka, sama-sama tau kalo suka, tapi ga jadian tuh kenapa coba? Kenapa ga lo tembak aja? Padahal satu sekolahan, satu kelas malahan. Ga ada tembok juga. Kenapa ga jadian?"
"Kenapa harus?"
"Ya bukan, aneh aja. Kalian ngobrol pake panggilan sayang tapi ga ada hubungan apa-apa."
"Gimana ya..." Sempat hening. Kemudian, "Ah ya. Gini. Gue kan posisinya lagi males aja pacar-pacaran, dan dianya juga gitu."
"Terus ngapain pake panggilan gitu?"
"Ya kebiasa."
- Sepotong pembicaraan di mobil malam itu, bersama mantan gebetan seorang teman.
Kemudian saya kekeuh ngasih pertanyaan-pertanyaan yang berputar di otak saya. Karena menurut saya, alasannya masih belum bisa membunuh rasa penasaran.

Cerita diatas sebenarnya cuma segelintir dari banyaknya cerita tentang hubungan yang jenisnya seperti ini.
Kalau kata orang sih, namanya Hubungan Tanpa Status (HTS). Jadi sudah sama-sama suka, tapi nggak melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius. Ya dengan berbagai alasan, tentunya.

Sebenarnya, jujur saya sendiri nggak pernah paham sama konsep hubungan jenis ini. Kalau saya pribadi, lebih menerima hal yang jauh lebih simple saja.
Kalau sama-sama suka dan dimudahkan jalannya tanpa ada hambatan, ya monggo ke arah yang lebih serius.
Tapi kalau memang ada penghalang dalam bentuk apapun, kalau memang sudah tidak ada jalan, ya lebih baik dihentikan sebelum terlanjur sayang.
Toh buat apa kan menjalani hal yang udah tau endingnya?

Paham sebenarnya, kalau segalanya gak sesimple itu juga.
Paham juga, bahwa ada banyak hal yang masih bisa dipertahankan walaupun tanpa adanya suatu patokan yang sebenarnya ga harus dimiliki juga. 
Jaman sekarang apa sih yang mustahil? Temenan aja bisa saling cemburu, katanya sih, temenan. Katanya.
Pokoknya saya pribadi mulai agak habis pikir dengan jaman sekarang.
Ya itu negatifnya.
Positifnya?
Ada yang perhatian, ada yang sayang, tanpa suatu bentuk pengakuan resmi. 

Terus kenapa masih ada yang mau punya hubungan kayak gitu? Jangan salahin cowoknya yang ga nembak dong, ceweknya kenapa mau?
Kalau saya mandangnya karena perempuan selalu menggunakan hati, jadi ya mikirnya selama nyaman, segala hal dilakukan. jatuhnya seperti, sakit sih, tapi namanya juga sayang.

Atau ada juga yang memang memiliki permasalahan yang sedemikian rumit, jadi memang tidak bisa bersama, tapi sudah jauh nyaman dan seperti "there's no one who can comfort me the way she/he did" lah yang membuat seseorang mampu ambil keputusan dengan hubungan jenis ini.
Gak salah, tapi gak bisa dibenarkan juga.
Karena bagi saya, hubungan jenis ini setengah-setengah.

Kalau memang sayang, kenapa tidak berani ambil jalan maju dan bertahan?
Kalau memang tak ada jalan, kenapa tidak berani mengambil langkah untuk pergi? Toh kalau memang untuk kebaikan, kenapa tidak?
Kenapa harus tinggal, tanpa tau akan dibawa kemana suatu hubungan yang dimiliki?
Karena manusia tak akan pernah habis masanya jika hanya menggunakan hatinya saja.

Jadi, ya, mari kita doakan orang-orang yang terjebak dalam hubungan jenis ini mampu menyelesaikan segalanya dengan baik dan sebijak-bijaknya.
Apapun, yang terbaik.
Mohon maaf juga saya skeptis sekali dengan cinta saat ini (haha)
Semoga kita semua mampu lebih kuat menjalani segalanya dan bisa segera memilih apapun yang memang terbaik.
Ciao!

With love,

N

1 komentar:

fradriyan aulia mengatakan...

lebih baik hubungan jenis ini kak nay daripada hubungan dengan sejenis hahaha~