Sabtu, 28 Februari 2015

Have no words

Halo, diri. 1 Maret nih. Lagi ulangtahun ya?
Selamat ulangtahun sayang. Saya gabisa ngomong apa-apa ke kamu, lidah saya kelu. Tapi saya janji saya akan berucap kepadamu. Eh bukannya kamu sudah menulis di buku jurnal pribadimu? Hehe selamat ya, diri.
Jadi, saya disini, cuma ngobrak abrik isi blog orang lain, dan menemukan postingan blog yang luar biasa menggambarkan apa yang saya rasakan. Blognya mbak Tyas yang sudah jarang diupdate tapi isinya membuat saya benar-benar jatuh cinta pada menulis. Here we go:

Hari Yang Tercukupi

Hari kemarin aku dibilang ulang tahun.

Selamat ulang tahun.
Wilujeng tepang taun.
Zum geburtstag.
Happy birthday.
Selamat milad.
Otanjoubi Omedettou.

Usia bertambah, umur tidak.
Dapat KTP. Ada wacana nyoblos kalo Pemilu.

Subuh jam setengah satu aku sengaja bangun dengan terhuyung. Alarm telepon genggam diatur semenjak tadi malam sebelum mata terpejam. Dengan gagap aku ingin menjumpai Allah dalam gelap walau jika ingin jujur sungguh badan berontak tak kuat, mata bilang sudah lima watt. Tapi setidaknya pada awal hari pengulangan kesekianbelas kalinya dimana aku akhirnya terlahir ke dunia dengan susah payah, aku ingin bicara banyak pada-Nya. Disaat langit sejuk, udara hening, ingin bercerita banyak pada-Nya tentang banyak sekali hal. Aku bukan seorang ahli tirakat dan solat malam yang bisa bercerita tentang nikmatnya kekhusukan solat-solat yang kudirikan. Sungguh solatku tak khusuk. Jauh dari khusuk. Tubuh ini bersujud tapi pikiran bertamasya kemana-mana. Kepada banyak sekali hal. Aku solat dengan memikirkan banyak hal. Memang aku hamba kurang ajar. Beribadah bukannya memuja Tuhan malah bercerita pada-Nya. Jika Allah bisa bertelepati, maka bisa dipastikan waktu itu aku sedang bertelepati denganNya. Pikiran yang tidak bisa dikendalikan ini aku kira sampai pada-Nya. Aku yakin Dia mendengarku. Kemudian aku merasa bahagia.

Aku habiskan waktu yang panjang untuk merenung. Bayangkan saja sehabis solat bukan berdoa malah merenung. Hamba macam apa aku ini. Bukan renungan galau, hanya renungan penyadaran diri. Bahwa aku terlahir diatas banyak pengorbanan dan sebuah pengorbanan maha besar yang aku sendiri tak yakin kelak dapat melakukan yang serupa. Bahwa aku tumbuh besar diatas banyak pengorbanan juga. Bahwa aku bisa mengecap bangku sekolah adalah diatas banyak pengorbanan juga. Pengorbanan yang datangnya bukan dari tempat seharusnya.

Aku hidup diatas banyak pengorbanan.
sekianbelas tahun membuat banyak orang berkorban demi aku. demi masa depanku.
sekianbelas tahun menyusahkan banyak orang yang tak seharusnya kubuat kesusahan.
sekianbelas tahun aku hidup sebagai beban. beban finansial, beban moral.

Di setiap napas
di setiap langkah
aku merasa berhutang akan banyak hal
pada semua.

pada keluarga tersayang yang telah begitu tulus.
pada Allah.
pada banyak hal.
aku merasa berhutang

---
Ah, ya, selamat ulang tahun, Nadia Fridasaniya Azaria.

Tidak ada komentar: