Sabtu, 23 Agustus 2014

Karina, untuk Raditya - 2

Kulihat matamu masih terpaku memandang senja yang tak kunjung meredup.
Seolah jiwamu masih terpatri ke kedamaian, yang jauh, jauh kutemukan yang penuh kerinduan.
Seolah mimpi dan asamu tak lagi sama.
Matamu, mata yang memancarkan kebahagiaan serta riangmu yang menyenangkan masih akan tetap seperti itu, namun seolah redup terbawa senja.
Ocehanmu yang membuatku merindu.
Lalu sikapmu, yang diam-diam menyentuh jiwaku.
Manis. Manisnya tutur katamu membawa tawa dan menjauhkan sendu, selalu, dan akan selalu menjadi canduku.
Bahwa mata, seakan mata pun kelut menatap jiwa yang teduh itu.
Bahwa telinga pun kini sudah ragu untuk mendengarkan.
Bahwa jiwa pun kadang ragu untuk sekedar bertahan, apalagi berjuang.
Ini bukan tentang apa yang dipilih dan berani untuk memilih.
Pun tentang rasa dimana segala nyaman tercipta.
Pun tentang mereka yang ada, dan mereka yang telah tiada.
Pun tentang kita.

Tetapi ini tentang hati, yang telah memutuskan.
Bahwa aku, seharusnya aku benar-benar memahami.
Bahwa ini bukanlah main-main, tidak, dan tidak lagi.
Lalu kau, aku. Kita. Bisa apa?

Dear Karina, aku merindu.