Selasa, 03 Juli 2012

lights of my night


photo was taken from: http://marissaangell.deviantart.com


Bukankah pernah kukatakan bahwa aku takut kegelapan?
Bukankah kau tahu bahwa gelap itu kesepian bagiku?
Bahwa salah satu hal yang aku takutkan bukanlah hewan atau apapun, tetapi kegelapan?
Bukankah kau tahu hal itu?

Tahukah kamu alasan mengapa aku takut kegelapan?
bahwa malam tanpa cahaya itu mengerikan
Laksana timun emas dan monster yang seketika bertemu 
Tak peduli keramaian, namun semu

Bahwa gelap bagiku adalah kesunyian yang paling dalam
Bahwa gelap bagiku adalah mimpi yang amat kelam
Yang mengharuskanku untuk menangis dalam diam
Karena kegelapan seperti seluruh wajah yang muram

Dan bukankah kau tahu hal ini?
Bahwa aku rela membayar apapun, asalkan aku tidak berada dalam kegelapan
Bahkan aku rela untuk berdiam diri
Bahkan aku rela untuk sendirian

Dan masih terukir jelas dalam ingatanku,
reaksi pertama yang kau berikan saat kuberitahu ketakutanku
Kau tertawa
Kamu, satu-satunya orang yang tertawa, namun menemaniku saat kegelapan menyapa

Lalu saat itu, sesuatu yang asing datang kepadaku
Sesuatu yang membuatku merasakan pendaran cahaya nyata, walaupun semu
Yang membuat tawaku terasa lain, tak lagi seperti dulu
Tawaku, untukmu

Lalu sekarang, tahukah kamu hal lain yang aku takutkan?
Tahukah kamu apa yang membuatku mampu berdiam dalam kesepian?
Tahukah kamu hal lain yang membuatku merasa jemu?
Kehilanganmu.

option

photo was taken from here: http://neso.deviantart.com


Lalu datanglah saat seperti ini.
Saat dimana aku kembali mengingat saat kau, dulu, menjadikanku sebagai pilihan.
Saat dimana aku bukanlah hal yang paling penting bagimu.
Saat dimana kegamangan itu muncul, mengenai posisiku.


Dulu, kita saling menyayangi.
Dulu kita merasa saling memiliki, meskipun terkadang berbagai cacian dan uraian air mata yang muncul hanya karena keegoisan.
Dulu, kita pernah saling mempertahankan, saling memohon satu sama lain untuk terus bersama.


Kita tahu rasanya jatuh cinta, lengkap dengan patah hatinya.
Kita sama-sama tahu rasanya kehilangan.
Lalu kita berjanji untuk saling menjaga satu sama lain.
Lalu datanglah saat itu, saat kau menutupi semuanya, mungkin untuk menjaga perasaanku atau ingin mempertahankan segalanya.
Persepsiku, dan caraku mempertahankan segalanya memang berbeda denganmu.
Imajiku akan kita pun berbeda.
Dulu, aku berpikir kita adalah dua insan yang memang diciptakan untuk bersama.
tak peduli masalah yang menghadang.
Dalam suka dan duka.


Saat itu segalanya perlahan hilang.
Kau tak lagi hadir disetiap momen-momen dalam hidupku.
Kau, perlahan menghilang, layaknya debu.
Lalu datanglah kau, lengkap dengan senyummu, seolah tidak ada apapun diantara kita.
Seolah kita masih bersama.
Dan aku, dengan bodohnya, menerima kehadiranmu tanpa mempertimbangkan segalanya.
Tanpa tahu bahwa engkau telah memiliki yang lain.
Bahkan aku tak tahu yang manakah yang mendua.


Lalu secara tiba-tiba aku mengetahui segalanya.
Kau, tetap dengan caramu, mempertahankanku.
Tanpa ingin melepaskannya.
Dan aku hanya bisa memasrahkan diri pada keadaan.
Kau, pribadi nyata namun terasa hampa.
Salah satu hal yang merubah persepsiku mengenai wanita.
Bahwa wanita tak pantas menjadi sebuah pilihan.
Tapi saat itu, aku memang buta.


Lalu kau secara tiba-tiba membuat keputusan.
Dan aku tidak tersenyum, bahkan sedikitpun tertawa.
Saat itu hanya ada air mata.
Bukan, bukan terharu atau kesenangan.
Sungguh sedikitpun aku tak pernah sedikitpun ingin menyakiti siapapun.
Lalu berbulan-bulan setelah itu, disinilah kita.
Kau disana, entah dimana, dan aku disini.
Lengkap dengan diriku kini.


Kini, aku menyadari bahwa kita bukanlah dua insan yang memang harus bersatu.
Aku hanyalah tempat transitmu, yang mengantarkanmu kepada masa depanmu.
Aku hanyalah seseorang yang diharuskan menjadi kenanganmu, bukan masa depanmu.
Aku bukanlah cinta selamanya kamu.


Dan disinilah aku.
Bukan, bukan karena mengenai urusan hati.
Bahkan aku pun sudah tidak ada hal apapun denganmu.
yang ingin kubicarakan kini adalah mengenai pilihan.
Kita semua pantas untuk memilih.
Akan tetapi tidak ada satupun orang yang pantas untuk menjadi pilihan.


Kau tidak akan pernah mempunyai orang lain -sebagai pilihan- selama kau jatuh cinta.
Karena sebenarnya hatimu tak pernah 'jatuh' untuk dua orang yang berbeda dalam takaran yang sama.


Dan biarkan aku bertanya.


Bagaimana jika kita tidak pernah saling mengetahui?
Mungkinkah aku tetap menjadi pilihan bagimu, dulu?