Minggu, 27 Desember 2009

heeem

aku berdiri pasif.
tidak memberikan suatu kemungkinan apapun, di dalam suatu keinginan.
hei ini berat untukku!
perlu berapa kali aku katakan kalau ini berat?

hanya tidak ingin menjadi sakit, demi diriku sendiri.
dan demi kamu.
mungkin aku merasa takut.
takut akan sesuatu yang mungkin terjadi.
terlebih apa yang telah terjadi antara kamu dan gadis itu sebelumnya.

aku hanya ingin kamu mengerti yang aku rasakan.
saat ini.
hanya saat ini, syukur syukur kamu mengerti nanti.
tapi ini berat, sungguh sangat berat.
kamu pun mungkin akan bertanya tanya jika membaca tulisanku ini.

sama seperti aku, ya.

aku pun tidak mengerti kenapa bisa menulis yang seperti ini.
karena melakoliaku sedang melanda.
dan karena aku..
aku tidak tau.

hei kok aku bodoh sekali mengatakan hal ini terus menerus ya?
karena aku memang tidak mengerti.
aku pun tidak tahu menahu tentang segalanya.

karena ini berat, sangat berat.
tolong pahami.

Rabu, 16 Desember 2009

dulu dan sekarang

dulu menulis itu kebutuhan.
dulu menulis itu kebiasaanku.
tanganku pegal rasanya kalau tidak menulis sehari saja.
rasanya ada pikiran yang mengganjal kalau aku belum menulis.

dulu aku haus menulis.
menulis apapun.
menulis tentang suka atau duka.
menulis tentang keegoisan atau mengalah.
menulis tentang kerapuhan atau kekuatan.
atau bahkan aku menulis diriku sendiri.

menulis itu sebagai penyalur perasaanku,
hal yang tidak mungkin aku sebarkan kepada orang lain.
hal yang membuatku menangis sehabis menulis, lalu mengantuk dan tertidur dalam perasaan damai karena hal yang ingin kulakukan dan kusampaikan bisa tersalurkan.

sekarang tidak begitu.

sekarang menulis itu sebagai penghibur.
aku menulis ketika aku merasa mood, dan tidak malas.
aku menulis ketika perasaanku lega.

menulis sekarang adalah keinginanku, bukan kebutuhan.
cerita yang kubuat terbengkalai.
sekarang satu satunya catatan hidupku ya pikiranku.
bukan tulisanku.

aku sadar, aku BERUBAH.
perubahan yang membuatku ketakutan.

memangnya harus berubah seperti itu?
aku hanya ingin menjadikan diriku di batas sewajarnya, tidak ketagihan ataupun melupakan.
bisakah?

mungkin hari ini aku akan mulai membenahi diri.

Sabtu, 12 Desember 2009

respirasi

hanya terpejam.
membiarkan irama itu sedikit demi sedikit merasuki jiwaku, dan membenamkan diri dalam kesunyian.
aku dengan ragaku dan memoriku.

aku hanya tertegun menatap layar, melihat dan tak bergeming. hanya seperti itu.
hanya bingung ingin menulis apa dan bagaimana. dan untuk siapa lebih tepatnya.

media bergeming, menyuarakan segala iming-iming akan keinginan dan kemampuan.
keterbatasan dan harapan itu berpadu dalam rangkaian yang berhubungan satu sama lain.
aku menyuarakan isi hatiku, penuh dengan peluh dan sesak yang mungkin kadang dirasakan.
menyuarakan segala teriakan dan sanjungan, bahkan celaan dari banyak hal yang kadang tidak dapat digambarkan.

terlalu sulit untukku menghitung, ataupun menghapusnya.
skeptis memang, tapi itulah isinya.

ada hal dimana kita merasa terjatuh, dan tidak sanggup berdiri lagi.
ada hal dimana ketika hati berteriak, dan menyeruak segala rasa yang sebenarnya terpendam.
saat kita tengah menjadi orang yang paling egois yang pernah ada, untuk diri kita sendiri.

atau, ada saat dimana kita tidak sesuai dengan perasaan.
dimana hati tidak berkenan dengan apa yang tidak kita dapatkan.

kebencian itu berlipat ganda, tangis pun tak mampu melegakan semuanya.
takkan bisa menambal atau menghapus luka yang sebenarnya harus tidak ada.

dan ketika aku dalam posisi itu, aku hanya mengatakan, "jangan mendramatisir keadaan."
ya memang begitu.
kadang apa yang didapatkan tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
tapi kesalahan kita, terlalu menaruh pikiran kita kepada apa yang tidak kita dapatkan, bukan apa yang telah kita miliki.

bukan tidak bersyukur, hanya saja terus menerus tidak puas.
manusia memang begitu, tapi kalau selalu merasa tidak puas, kapan merasakan bahagia?

bahagia itu bukan mendapatkan apa yang ingin kita dapatkan, tapi bahagia itu adalah mensyukuri dan menerima apa yang telah kita miliki.

bukannya begitu? lantas kenapa disalah artikan?

diam saja.
membiarkan media menarikku dari pikiranku.
membiarkan jemariku mengetik,
membiarkan paru-paruku melakukan proses respirasi yang terjadi ketika aku masih di dunia ini.
membiarkan pikiranku mengaturku, tapi ragaku tetap mengambil alih kendaliku.
kendati apapun, inilah yang seharusnya.

dan inilah jalannya.